1. Kutubussalaf (Kitab Kuning)
Dalam negri santri, terdapat istilah “pondok kitab” dan “pondok tahfidz” yang terkadang mendapat salah tafsir dari beberapa santri yg tidak bertanggung jawab sehingga ketika mereka telah masuk ke dalam salah satu istilah tersebut, maka mereka seakan-akan enggan untuk masuk ke dalam istilah yang satunya lagi.
Untuk menanggulangi kasus di atas, pesantren kami yang bisa dikatakan termasuk kategori pondok tahfidz ini memberikan bekal ekskul berupa materi kutubussalaf kepada para santri. Dalam ekskul kutubussalaf ini kami menggunakan dua metode, yaitu “Bandongan” dan “Sorogan”. Metode bandongan adalah metode penyampaian materi dengan cara para santri mendapat materi pembahasan (dari sebuah kitab) langsung dari guru yang mengampu, baik dengan jalan mendengarkan maupun didekte dan lain sebagainya.
Praktek penyampaian model bandongan seperti ini dalam pesantren kami langsung diampu langsung oleh KH. M. Khoiruddin Masykur AH. Sebagai pengasuh, dan beberapa putra beliau seperti Ust. M. Aedi Ulil Abshor S.Pd.i dan Ust. Abdul Fatah AH. serta beberapa pengampu lain yang tidak bisa penulis cantumkan namanya satu-persatu karena keterbatasan wawasan penulis.
Adapun materi kutubussalaf yang disampaikan dalam pesantren kami secara bandongan diantaranya adalah: Tafsir Jalalain, Ta’limul Muta’allim, Qomi’ut Thughyan, Al-Hikam, Bulughul Marom, Kasyifatus Saja fi Syarhi Safinatun Naja, dan lain-lain.
Sedangkan kutubussalaf yg digunakan dalam penyampaian materi secara “Sorogan” atau membaca kitab dihadapan pengampu materi diantaranya adalah: Safinatun Naja, Tijanud Durori, Qhothrul Ghoits, Sulamul Muanajah, AL-Jurumiyyah, Riyadlul Badi’ah, Sulamut Taufiq, Taqrib, dan lain-lain.